CIMG2442Kegiatan ini dihadiri 35 peserta, terdiri dari  Pengurus YAKA, Anggota Asosiasi Kader Sosial-Ekonomi  Strategis (AKSES)-Indonesia dari Akses Kalbar, Akses Jakarta. Dan juga beberapa jajaran Pengurus dan senior Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI). Kegiatan ini diadakan di Hotel Santika, Yogyakarta, bertepatan pada Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2012.

Acara dibuka oleh Trisna Ansarli dari YAKA. “Tujuan penting Kaderisasi Kepemimpinan Kolega Sosial-Ekonomi Strategis Indonesia atau K3SI dalam rangka membantu meningkatkan kualitas kepemimpinan di Indonesia”, terang Trisna tentang K3SI.

Kemudian Robby Tulus, inisiator AKSES Indonesia, menukik lebih tajam. “Kita sekarang ini dalam posisi tenang dan untuk itu penting untuk memikirkan tentang pentingnya kepemimpinan yang baik untuk masa depan gerakan koperasi yang sudah kita bangun agar tidak mudah tercerabut oleh syahwat kekuasaan”, ujarnya.

“K3SI yang kita kembangkan ini adalah untuk membentuk kader handal, kalau dalam terminologi Rezim Komunis disebut profesional revolutif. Jadi kader AKSES harus jadi profesional evolutif yang memiliki karakter kuat, sebagai intelektual yang dapat memimpin, mengorganisir dan melatih serta memotivasi yang lainnya untuk kebaikan masyarakat” imbuh Robby.

Robby juga menekankan pentingnya pengorganisasian gerakan dengan memberi contoh figur Romo Dijkstra dan Romo Albrecht yang dulu membangun Petani Pancasila dan Credit Union sebagai bentuk perlawanan  dominasi asing dan kolonialisme baru. AKSES-Indonesia  ini tujuanya untuk mengembangkan jenis-jenis koperasi genuine selain yang sudah ada dan berkembang dengan baik. “Kita perlu kembangkan Koperasi Konsumsi (Consumer Union) untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Agar berkembang baik, harus dikembangkan secara bottom-up dan evolutif”.

Sebagaimana kita tahu, model Koperasi Konsumsi ini sudah dikembangkan di Purwokerto yang berawal dari Koperasi Kampus (University Co-op) yang juga diinspirasi keberadaanya oleh Robby Tulus.

“Consumer Union Mart atau CU-Mart adalah inovasi baru yang modelnya sudah berkembang dengan baik di Purwokerto, dan perlu dikembangkan di tempat lain dan sebagai basis pergerakan nasional. Untuk itulah AKSES harus berfungsi dan tidak terlibat secara operatif seperti halnya CUCO/BK3I dalam pengembangan Credit Union di masa lalu”, kata Robby.

Pada kesempatan itu, Abat Elias selaku GM Induk Koperasi Kredit (Inkopdit)  yang dari awal mendukung gerakan ini mengingatkan bahwa manajemen CU-Mart dan Credit Union itu harus dipisahkan. “Credit Union dapat membantu dengan investasi pada modal tetap saja seperti gedung atau tanah. Sedangkan modal kerja diadakan oleh anggota-anggota dari CU Mart yang bisa jadi juga dengan cara meminjam di Credit Union atas nama pribadi-pribadinya.

Sedang P. Florus, salah satu senior dari CU Kalbar mengingatkan, agar CU-Mart dan Credit Union ini nantinya juga berkembang di tengah masyarakat dan mampu mengangkat perekonomian mereka “Jangan sampai CU Mart atau CU itu berubah jadi monster baru bagi masyarakat tapi justru sebalik-nya, memberdayakan mereka”.

Kegiatan Sarasehan yang digelar dua hari itu berjalan dengan sangat interaktif dan dialogis.  Selain membahas masalah internal keorganisasian AKSES, juga pembahasan mengenai berbagai persoalan sosial-ekonomi di lingkungan kader masing-masing serta diskusi soal peluang pengembangan usaha.

Sebagai bentuk respon positif forum, maka pada bulan Juli mendatang akan diselenggarakan program K3SI di Bali dan NTT. Dan sebagai langkah aksi lanjutan akan segera dilakukan program Diklat untuk pengembangan CU Mart yang akan diselenggarakan oleh CU Keling Kumang, AKSES Kalbar dan YAKA. []