handsOleh: Lukas Arimurti

Merefleksikan peran kader AKSES Indonesia sejauh ini, maka terdapat tiga bidang yang masing-masing bersumber pada jati diri kader seperti terdapat dalam Mukadimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AKSES Indonesia paragraf VI, dan sekaligus ketiganya memiliki kekhasan masing-masing. Ketiga bidang tersebut adalah:

1. Revitalisasi nilai-nilai dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia; 2. Membangun fondasi dan mengembangkan nilai-nilai ‘genuine cooperative’ dalam Gerakan Koperasi Konsumsi Indonesia; 3. Membangun dan mengembangkan nilai-nilai humanisme etik dalam pemberdayaan kelompok-kelompok marginal yang terdapat dalam komunitas-komunitas basis di berbagai daerah di Indonesia.

Berikut akan coba diurai bagaimana usaha menghidupkan dan mengembangkan nilai-nilai tersebut sesuai dengan kekhasan bidang masing-masing.

  • Revitalisasi nilai-nilai dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia

Revitalisasi nilai-nilai dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia berkaitan erat dengan maraknya gejala dan fakta demutualisasi yang terdapat dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia. Begitu halusnya pengaruh nilai-nilai lain masuk dalam hasrat insan Koperasi Kredit Indonesia hingga kesadaran akan jati diri koperasi tanpa sadar tergerus  dalam praktika kehidupan berkopdit.

Bentuk revitalisasi nilai-nilai ini dapat diimplementasikan dalam konsep Cooperative Values Diagnostic, dimana para kader AKSES yang sekaligus insan CU berperan dalam proses sosialisasi dan implementasinya. Karena Cooperative Values Diagnostic hanyalah sebuah alat bantu, maka jauh lebih perlu dan lebih penting adalah kesadaran dan keteladanan para kader AKSES sendiri dalam menghayati dan menghidupi jati diri koperasi dalam Gerakan ber-Koperasi Kredit Indonesia.

  • Membangun dan mengembangkan nilai-nilai ‘genuine cooperative’ dalam Gerakan Koperasi Konsumsi Indonesia

Gerakan Koperasi Konsumsi Indonesia lahir berbarengan dengan AKSES Indonesia. Kelahirannya mengandung arti inovatif, maksudnya sudah saatnyalah gerakan koperasi Indonesia merambah sektor riil. Mengingat gerakan ini baru, maka tahapan pertama yang perlu dan penting dilakukan oleh kader AKSES adalah membangun fondasi nilai yang kuat berdasarkan jati diri koperasi. Tantangan di bidang ini begitu besar, salah satunya adalah bila hal tersebut lebih ditangkap hanya sekedar hasrat untuk berbisnis dengan tujuan pemanfaatan ‘iddle money’ dari Credit Union dan demi menambah keuntungan semata. Oleh sebab itu para kader AKSES yang berperan dalam Gerakan Koperasi Konsumsi Indonesia perlu senantiasa membangun kesadaran bahwa Gerakan ini merupakan sebuah upaya penguatan sosio ekonomi komunitas yang didasari nilai-nilai humanisme etik. Dalam praktika berkoperasi konsumsi terkandung prinsip ‘etical consumerism’ sebagai dasar edukasi untuk melawan praktek-praktek konsumerisme global yang sudah akut menjalar pada masyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi ciri khas yang membedakan bisnis sektor ini yang dikelola secara kooperatif.

  • Membangun dan mengembangkan nilai-nilai humanisme etik dalam pemberdayaan kelompok-kelompok marginal komunitas basis di Indonesia

Bagian ini belum banyak digarap oleh para kader AKSES, namun bukan berarti tidak dilakukan. Baiklah kita menyitir AD/ART AKSES dalam Mukadimah, paragraf VI sebagai berikut: “Bahwa di manapun para kader hasil K3SI berada, tujuan ideal yang diharapkan dari keberadaannya adalah menghormati martabat manusia melalui pilihan keberpihakan pada mereka yang paling tidak berdaya secara sosio-ekonomi. Bersama dengan mereka, para kader diharapkan berusaha mencari upaya inovatif dan kreatif untuk mengembangkan potensi sosio-ekonomi masyarakat dengan mengedepankan pendekatan yang menghargai kearifan lokal, keadilan dan perdamaian, hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan hidup. Diharapkan, dengan upaya tersebut keutuhan ciptaan akan semakin dapat dipulihkan.”

Dalam paragraf tersebut terkandung makna pemberdayaan sosio ekonomi kelompok-kelompok marginal. Kelompok-kelompok ini tersebar banyak di tanah air. Adalah sebuah panggilan mulia dari para kader AKSES di manapun berada untuk peduli dan mengupayakan bersama dengan kelompok-kelompok tersebut solusi-solusi inovatif yang dapat mengangkat kualitas hidup komunitas kelompok-kelompok marginal sekaligus penguatan sosio ekonomi komunitas tersebut. Siapakah kelompok-kelompok marginal ini? Dalam masyarakat Indonesia, mereka ini adalah para petani, nelayan dan para buruh. Sudahkah gerakan pemberdayaan sosio ekonomi meletakkan fokusnya pada mereka? Bila belum, saatnyalah bagi para kader AKSES untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan potensi sosio ekonomi mereka.   [LA]

*Penulis adalah Pelaksana Harian AKSES Indonesia