PrintOleh: Robby Tulus

Pendahuluan

AKSES, atau Asosiasi Kader Sosial Ekonomi Strategis, usianya belum lagi satu tahun dari sejak resmi didirikan pada Rapat Anggota AKSES bulan Mei 2013. Kendatipun demikian, permintaan terus bermunculan secara rutin dari banyak daerah di Indonesia untuk diadakannya Kaderisasi Kepemimpinan Koperasi dan Lembaga Sosial Ekonomi Indonesia (K3SI) oleh tim AKSES. Ini berarti adanya laju permintaan yang bersifat “demand driven”. Artinya, AKSES dibutuhkan secara nyata oleh kelompok sasaran yang melihat adanya manfaat yang bisa mereka petik dari kegiatan AKSES tersebut.

Berikut adalah beberapa pokok pikiran hasil refleksi saya, tentang peran penting AKSES di saat sekarang serta potensi daya-jangkaunya di masa mendatang.

AKSES sebagai Lembaga Think Tank “Grassroots”

Proses pertumbuhan AKSES adalah ‘from the ground up’, dengan kader-kader yang berada di akar rumput. Meski dibangun melalui ‘trial and error’, atau proses uji-coba, namun evolusinya membuahkan sekelompok kader inti yang percaya akan potensi besar yang dimiliki AKSES untuk masa mendatang. YAKA memang membidani proses kelahirannya, namun kader inti dari kalangan generasi muda cepat menangkap esensi dan potensi AKSES, yang kemudian mampu berlanjut dengan kekuatan bantu-diri, sekalipun banyak didukung eksponen kunci koperasi kredit di banyak daerah, dan ditopang mitra dinamis AKSES yaitu Induk Koperasi Konsumsi Indonesia (IKKI).

Sebagai sebuah lembaga Think Tank sosial-ekonomi, AKSES diharapkan bisa terus berjuang keras untuk membuktikan bahwa paradigma “self-help through mutual help” memang bisa menjadi kenyataan hidup bagi masyarakat yang masih tertinggal di Indonesia.

Bantu-diri melalui kerjasama saling-membantu bukanlah sekedar berhasil untuk berdikari secara finansiil, namun suatu upaya mencari jalan keluar yang berkelanjutan agar masyarakat miskin tidak terjerumus kembali ke jurang kemiskinan dan ketergantungan. Itu berarti karya bersama masyarakat untuk tanpa hentinya berkreasi dan berinovasi guna mencapai kehidupan bermartabat, yaitu keberhasilan dalam melepaskan diri secara lestari dari jeratan ketidakadilan dan ketergantungan.

Mencapai kehidupan bermartabat tidak bisa terjadi dalam situasi vakum, karena dinamika hidup tidak bisa lepas dari lingkungan sosial-ekonomi disekitarnya. Lembaga seperti AKSES memiliki landasan strategis untuk ikut memperjuangkan tercapainya keadilan dan kemakmuran masyarakat  tertinggal dengan inovasi yang dinamis. “Self-help” di bidang finansiil sangat ampuh untuk membangun landasan ekonomi masyarakat tertinggal, namun itu tidak cukup untuk kehidupan bermartabat kalau masyarakat tidak diberdayakan pendidikan, kesehatan, pola konsumsi maupun hiburan sehatnya. “Mutual help” dengan melibatkan pemangku kepentingan lainnya menjadi relevan, asalkan motivasinya adalah untuk membangun masyarakat sejahtera yang lepas dari ketergantungan dan ketidakadilan. Kesenjangan kaya-miskin bukan sekedar masalah mikro di tingkat lokal, dan juga bukan masalah makro di tingakt nasional. Kesenjangan kaya-miskin merupakan masalah global karena pemusatan kekayaan akibat sistem kapitalisme akan terus berlanjut kalau tidak ada kekuatan daya-tanding (countervailing power) dan polinasi silang (cross pollination) dalam hal inovasi dan permodalan.

Adalah menarik apa yang ditulis Thomas Pikerty dari Paris School of Economics, yang berjudul “Capital in the Twenty-First Century”. Di rubrik majalah “The Economist” bulan Januari 2014, diulas bagaimana Pikerty meninjau ulang kearifan konvensional para pemikir ekonomi di abad ke-20, yang menyatakan bahwa kapitalisme akan mampu mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Thomas Pikerty mempertanyakan kearifan konvensional tersebut karena ternyata kesenjangan terus saja semakin melebar dan mendalam. Ia bahkan membenarkan hipotesa David Ricardo dan Karl Marx yang menyatakan bahwa keberlanjutan kapitalisme hanya akan mempertajam konsentrasi kekayaan dan akan membuat upah buruh menjadi stagnan. Buku Mr. Pikerty menarik sekali karena baginya tidak ada argumen kuat bahwa kapitalisme dapat dengan sendirinya membalikkan kesenjangan yang semakin melebar itu menjadi semakin sempit.

Risetnya menunjukkan bahwa keadaan ekonomi dimasa sebelum Perang Dunia ke-I adalah sangat tidak setara. Di tahun 1910, 10% dari keluarga di Eropa mengontrol 90% dari kekayaan secara keseluruhan. Peperangan dan masa depresi antara tahun 1914 dan 1950 memang sempat menurunkan kekayaan para pemilik modal secara drastis. Perang Dunia menghancurkan peran modal secara fisik karena terjadinya nasionalisasi, inflasi, dan keruntuhan infrastruktur, sementara Masa Depresi Besar mengakibatkan banyak kerugian modal dan kebangkrutan. Namun Modal cepat terkumpul kembali, dan sejak tahun 1970an rasio kekayaan terhadap pendapatan ternyata sudah mendekati ketinggian yang sama seperti sebelum 1910. Mr. Pikerty melihat adalanya dua kelemahan fundamental dari kapitalisme. Yang pertama adalah varian dari modal sebagai unsur ‘pendapatan’ dan bukan sebagai unsur ‘upah’, sehingga modal disamakan dengan pendapatan terhadap modal yang dimultiplikasi dengan stok kekayaan secara kesluruhan sebagai unsur PDB (GDP). Kelemahan kedua adalah adanya pemahaman umum bahwa dalam jangka panjang stok modal sebagai bagian dari pendapatan nasional akan mendekati rasio tingkat simpanan nasional terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi.

Namun kenyataan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (GDP) hanya 2% sementara pertumbuhan angka simpanan mencapai 8%, maka kekayaan akan meningkat sebanyak 400% dari PDB. Disini Pikerty ingin menunjukkan bahwa semakin kecil PDB, semakin besar konsentrasi kekayaan para pemilik modal.

Menyadari kenyataan demikian, adalah pada tempatnya kalau AKSES  mulai memikirkan inovasi-inovasi baru untuk mengurangi kesenjangan kaya-miskin yang terus membesar. Ini dapat dimulai dari level mikro di tingkat akar rumput (grassroots), namun yang dampak dan manfaatnya bisa dirasakan pada level makro, baik itu di tingkat regional maupun nasional. Dan beberapa contoh di bawah ini mungkin bisa membuka wawasan baru mengenai polinasi silang bersama mitra terpercaya, sekalipun itu merupakan perusahaan kapitalis besar tapi yang masih memiliki hati nurani. AKSES harus berani meng’akses’ peluang ini, sehingga merupakan Think Tank Grassroots yang proaktif dan tidak akan terkooptasi.

AKSES sebagai Inovator

Saya ambil contoh lembaga inovatif terkenal yaitu Water.org, yang melahirkan inovasi brilian untuk menciptakan kecukupan air di tengah-tengah masyarakat yang menderita kekeringan air. Water.Org bukan hanya berkiprah secara advokatif, namun ikut melibatkan perusahaan-perusahaan besar (kapitalis) bersama masyarakat setempat secara proaktif. ‘Water.org’ tidak memakai solusi karitatif dengan meminta bantuan perusahaan-perusahaan besar, yang memiliki segudang dana CSR, untuk memberi bantuan dana kepada yang butuh air. Yang menarik, Water.Org memakai solusi kemitraan berbasis pasar dengan memperkenalkan sistem ‘metrics’, yaitu seni versifikasi. Sebagai LSM, Water.org merintis kerjasama dengan perusahaan multinasional dengan memanfaatkan sistem keuangan mikro secara effektif. Pinjaman ditujukan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kebutuhan nyata yaitu akses terhadap pelayanan air bersih dan sanitasi.

Tipe “double bottom-line”  (memberi hasil sosial-ekonomis) demikian merupakan inovasi yang merubah paradigma filantropis CSR di kalangan perusahaan multinasional, dan ditransformasi menjadi solusi win-win dalam konteks masyarakat tertinggal. Fokus perusahaan dialihkan sedemikian rupa sehingga bukan sekedar melihat capaian dan jangkauan (outreach) secara umum dikelompok sasaran, namun diperhitungkan secara rinci berapa biaya filantropisnya bagi setiap individu yang ingin dijangkau. Alhasil, biayanya dapat ditekan menjadi rendah sementara modal komersial bekerja keras untuk membantu masyarakat melalui proses keuangan mikro. Tidak disangka perusahaan besar seperti Pepsi Co. Foundation (perusahaan Pepsi Cola) telah menyediakan US $ 23 Juta untuk program pengadaan air bersih di negara sedang berkembang, sementara IKEA Foundation (Perusahaan Mebel terbesar di dunia) menyediakan US $ 5 Juta untuk tujuan yang sama.

Demikian juga Unilever yang bekerjasama dengan LSM-LSM terkenal seperti Oxfam dan Save the Children yang memperkenalkan tekonologi air bersih dan pendididikan untuk merubah sikap masyarakat terhadap kebersihan dan sanitasi. Sinergi perusahaan dengan LSM seperti ini membuka ruang untuk inovasi keuangan dan filantropi cerdas di masa mendatang.

Kalau AIR yang merupakan sektor yang sangat kompleks untuk diurus karena erat kaitannya dengan ketahanan pangan, kesehatan dan pendidikan, maka sektor Konsumsi dan Produksi yang sedang diadvokasikan dan direalisir AKSES rasanya akan lebih mudah ditangani secara inovatif juga. Bagaimana, misalnya, menerapkan ‘double bottom-line’ dengan  perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang konsumsi agar IKKI dapat memanfaatkan distribusinya kepada msayarakat sekitar CU Mart, yaitu dengan biaya filantropi terukur sehingga perusahaan tetap untung/tidak rugi, sementara CU Mart bisa maju berkembang. Memang skala ekonomi harus dibuktikan terlebih dahulu dengan jumlah CU Marts yang memadai, sementara critical mass (para anggota/konsumen) harus cukup besar juga, sehingga ada nilai-tambah ekonomisnya.  Karena itu, adalah tugas AKSES bersama IKKI untuk membantu lebih banyak lagi CU Mart yang berkembang di berbagai daerah terpencil. Di segmen produksi, AKSES dapat membantu mendirikan koperasi di kalangan masyarakat yang sudah teruji kemampuannya untuk menangani produksi unggas atau sapi milik perusahaan besar, sehingga biaya produksi bisa lebih ditekan sementara koperasinya ikut berkembang maju.  Disini double bottom-line malah bisa berkembang menjadi triple bottom-line kalau Koperasi ikut memelihara kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.

Kalau inovasi tidak tumbuh untuk mencari kombinasi market-based approach ke arah double dan triple bottom-lines, maka buah kapitalisme akan tetap terkonsentrasi pada si kaya dan tidak lagi sempat terdistribusikan ke masyarakat tertinggal. Akibatnya, kesenjanagan sosial-ekonomi akan semakin melebar dan mendalam saja. Inilah tantangan besar bagi AKSES sebagai sebuah lembaga Think Tank “Grassroots” untuk  membantu mengurangi kesenjangan di tingkat mikro yang bisa membantu membuahkan inovasi bagi kebijakan di tingkat makro.

AKSES sebagai pengawal Demokrasi Sosial Ekonomi

Ideologi Komunisme melumpuhkan inovasi masyarakat miskin karena alat produksi harus dikuasai negara dan kekayaan maupun inisiatif individu menjadi terkekang, sementara kapitalisme menanamkan inovasi elitis yang melanggengkan kekayaan individu. Melihat ketimpangan  dari kedua model atau ideologi diatas hanya memperkuat argumen bahwa demokrasi ekonomi yang pas tetap berpulang pada sistem KOPERASI.

Praktek-praktek manipulatif kapitalisme dan praktek kontrol secara sentralistik Komunisme memberi ruang bagi Koperasi untuk berkiprah lebih dinamis dan inovatif. Mengurangi kesenjangan kaya-miskin yang dicoba perusahaan-perusahaan raksasa di Fortune 500 melalui ESOPS (Employee Stock Ownership Plans) memang meninggikan produktivitas perusahaan, mengangkat upah buruh, dan mempertinggi retensi buruh. Namun para karyawan/pekerja perusahaan yang ikut memiliki saham perusahaan itu tidak memiliki suara sama sekali, apalagi hak untuk ikut mengendalikan perusahaan itu sendiri.  Alhasil, pemilik saham terbesar juga  yang masih saja menggaruk keuntungan terbesar sehingga karyawan/buruh tetap menjadi objek dan bukan subjek di perusahaan ini. Kepemilikannya masih ditentukan oleh besarnya saham/modal dan bukan oleh martabat manusianya.

Bandingkan itu dengan Mondragon yang pekerjanya menjadi pemiliknya juga dengan hak suara sama, sehingga kemajuan Koperasi ini menjadi kebanggaan mereka secara bersama. Mondragon tidak berhenti di sektor industri tapi juga melaju ke sektor pendidikan, kesehatan, konsumsi dan turisme. Masyarakat yang terjangkau oleh pelayanannya ikut menikmati hasil Koperasi ini secara utuh – sebuah model unggulan dari “Self-Help through Mutual Help” -  tanpa mengorbankan prinsip dan nilai mereka, akan tetapi tetap berkiprah diseputar iklim kapitalis dengan market-based approach. Manum disayangkan sekali bahwa salah satu sub-usaha Mondragon, yaitu Fagor, hutangnya sempat menggelembung sampai $ 1.2 Milyar, dan menyatakan dirinya bangkrut karena terlambat diselamatkan oleh induk usahanya. Pekerja-cum-anggota Fagor berjumlah 5,600 dan kerugiannya diakibatkan oleh melemahnya daya saing ketika produk Fagor tidak bisa bersaing dengan produk barang murah yang masuk dari Asia. Jadi masalah governance menjadi isyu penting yang harus selalu diperhatikan, karena satu orang manager saja bisa membuat kerugian besar yang akhirnya  menimbulkan kehancuran yang berefek domino. Seperti halnya seorang pemimpin Bank Koperasi di Inggris yang bisa menghancurkan dan menswastakan bank koperasi yang tadinya begitu kokoh dan berdaya-guna.

Karena itu para Kader AKSES bukan hanya harus kuat secara moral dan etis, namun juga mengerti masalah governance kelembagaan dan bagaimana memprediksi dan memanage resiko. Demokrasi ekonomi harus dibarengi dengan demokrasi sosial, yaitu memastikan bahwa masyarakat sasaran terus terlibat dalam memantau dan mengutarakan aspirasi mereka.

Ini kemudian harus bisa diterjemahkan kedalam regulasi dan legislasi yang mampu melindungi hak-hak mereka. Pekerjaan yang tidak mudah, memang, namun menjadi tidak terlalu sulit kalau hak dan aspirasi masyarakat bisa di survey oleh AKSES secara objektif, lalu diadvokasikan melalui berbagai media terpercaya. Kegiatan dan amanah AKSES seperti ini akan membawa support dari masyarakat di akar rumput, dan misi AKSES  sebagai think tank “grassroots” akan memberi makna khas tersendiri. AKSES tetap patuh pada misi sosial ekonominya dan netral serta jauh dari praktek politik praktis yang amat sering mengecewakan rakyat jelata. Kawalan AKSES seperti ini akan   membantu masyarakat untuk tidak lagi terkelabui kelembagaan yang serba besar tapi salah diurus. Pada gilirannya proses bantu-diri masyarakat bisa menghasilkan kehidupan bermartabat bagi mereka yang masih tertinggal, dan demokrasi sosial ekonomi pun akan tumbuh berkembang secara lebih lestari. []

Penulis tinggal di Ottawa, Canada