BurnYourBoxResizeOleh:  P. Florus

Kita dapat berdiam di dalam sebuah Zona Aman tanpa kita sadari. Zona Aman itu membuat kita merasa aman dan puas karena seakan-akan keperluan kita dipenuhi, dan potensi kemanusiaan kita dikembangkan sempurna di situ. Artinya, di dalam Zona Aman itu ada tautan kuat antara faktor ekonomi dengan faktor psikologis.

Namun Zona Aman ternyata membahayakan. Pertama, menina-bobokan. Di dalam Zona Aman seseorang terlena, karena sensasi “Aduh enaknya!”   Orang merasa bahwa itulah dunianya, sehingga dia takut untuk keluar dari situ.

Kedua, Zona Aman dapat membuat orang menjadi sombong. Dia merasa “Saya sudah hebat”  seraya memandang rendah orang/pihak lain.  Di luar sana tidak ada yang lebih baik lagi. Di sinilah saya harus berkomitmen sepenuh hati.

Ketiga, Zona Aman mengurung atau membatasi seseorang. Dia lalu menjadi jago kandang: “Inilah tempat saya terbaik. Puncak prestasi saya.”  Pembatasan itu membuat dirinya merasa bahwa potensinya tidak dapat diaktualkan lebih baik lagi.

Keempat, Zona Aman juga memandulkan kreasi dan inovasi. “Buat apa perbahan? Ini sudah sempurna?”.  Takut perubahan. Dia lupa bahwa perkembangan terus terjadi. Dia tidak menyadari bahwa kemandulan kreasi dan inovasi akan membuat kehidupan dirinya menjadi stagnan.

Di kalangan para aktivis Kopdit Indonesia saya melihat bahaya Zona Aman mulai terjadi. Kopdit-kopdit besar memang telah semakin mapan. Kemapanan inilah yang mendorong sikap para aktivis untuk menjadikan Kopditnya sebagai Zona Aman. Lalu muncullah “keyakinan palsu” bahwa Kopdit sudah sempurnan untuk menyejahterakan masyarakat (anggota).

Ketika Kopdit dijadikan Zona Aman, maka jangan harapkan ada inovasi. Bagi saya, inovasi (sebagai pilar ke-4 selain pendidikan, swadaya dan solidaritas) harus diwujudkan ke dua aras besar: internal dan external.  Inovasi internal Kopdit ditujukan untuk terus-menerus menyempurnakan produk dan pelayanan. Hasilnya: lahir produk baru, buang produk lama yang tidak lagi cocok, perbaiki cara pelayanan. Semuanya demi kepuasan dan kebaikan anggota.

Sedangkan inovasi external adalah langkah besar berikut dalam kerangka gerakan ekonomi kerakyatan. Visi besar gerakan ekonomi kerakyatan adalah kesejahteraan, keadilan dan kedamaian bagi semua warga bangsa. Untuk kita di Indonesia, terkait legalisasi menurut UU nomor 17 tahun 2012, setelah Kopdit perlu dengan serius digerak-tumbuhkan koperasi-koperasi konsumsi (Credit Union Mart), pertanian dan jasa.

Mengapa koperasi konsumsi (CU Mart)? Karena itu keperluan real para anggota kopdit (dan masyarakat sekitar). Setelah modal (dana) terhimpun di kopdit, para anggota menggunakannya untuk berbelanja segala macam keperluan hidup. Kalau tidak ada CU Mart, tentu saja mereka berbelanja ke toko/pasar/mall milik kaum kapitalis.  Nah, kopdit lalu menjadi pendukung usaha kapitalis; usaha yang katanya berseberangan dengan koperasi.  Insan-insan kopdit mampu mengembangkan CU Marta yang besar. Secara kelembagaan, Kopdit juga dapat gunakan Dana Sosial-Lingkungan, tanpa seorang anggota pun dirugikan.

Berikutnya, mengingat sebagian besar para anggota kopdit se-Indonesia adalah petani, maka koperasi pertanian menjadi penting. Kalau tidak, para petani terus akan dihisap oleh lintah darat, produksi yang tinggi dijual kepada pedagang kapitalis dan mereka membeli sarana produksi dari kapitalis juga. Oleh sebab itu, kita perlu menumbuh-gerakkan koperasi-koperasi  produksi, terutama di sektor pertanian dan perikanan.

Langkah besar berikut adalah mengembangkan koperasi-koperasi jasa sektor real: transportasi, perhotelan, pariwisata dan rekreasi, pendidikan.  Menurut saya, gerakan ekonomi kerakyatan di Indonesia belum mendesak untuk mendiskusikan hal ini. []